BARRIER: Transformasi Limbah Brine Menjadi Material Biocement dengan Mekanisme Microbially-Induced Calcite Precipitation Guna Mencapai Lingkungan Berkelanjutan

Daffa Rahmatullah

Ditayangkan :

Desember 23, 2025
14:17
0
(0)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Pada ajang Waste Management Research Competition 2025, Siswa-siswi dari SMA Negeri 1 Ponorogo yang beranggotakan Sudaifah Mukti Julia, Arif Okta Dwi Ramadhan, dan Rifathurizqi Pribadi yang tergabung dalam tim bernamakan Baymax, menghadirkan inovasi “BARRIER (Brine-based Biocement for Renewable Environmental Restoration)”. Ide ini berangkat dari persoalan lingkungan pesisir Indonesia yang kian kompleks akibat meningkatnya limbah cair pekat (brine water) hasil proses desalinasi air laut. Limbah brine dengan kadar garam terlarut mencapai 35.000 mg/L serta kandungan logam berat seperti Pb, Fe, Ca, dan Mg dapat meningkatkan salinitas dan merusak ekosistem laut bila dibuang tanpa pengolahan.

Melihat potensi dan bahayanya, Baymax Team menghadirkan solusi pengolahan limbah brine menjadi biocement melalui mekanisme Microbially-Induced Calcite Precipitation (MICP). Proses ini memanfaatkan bakteri Sporosarcina pasteurii yang mampu mengubah urea menjadi ion karbonat (CO₃²⁻) untuk bereaksi dengan ion kalsium (Ca²⁺) dalam limbah, menghasilkan endapan kalsit (CaCO₃) yang dapat dikeringkan menjadi bahan bangunan alami. Dengan demikian, BARRIER tidak hanya mengurangi kadar logam dan salinitas, tetapi juga membantu penyerapan karbon melalui pembentukan karbonat padat.

Tahapan produksinya mencakup penyaringan brine menggunakan activated carbon, penyesuaian pH dan suhu, penambahan nutrien, proses biopresipitasi, hingga pengeringan dan penghalusan kalsit berukuran 10–20 µm. Semua dilakukan dengan prinsip green building dan circular economy, memastikan proses ramah lingkungan dan minim limbah tambahan.

Hasilnya, biocement dari BARRIER memiliki kekuatan tinggi, dapat didaur ulang, dan berpotensi menggantikan sebagian bahan bangunan konvensional. Secara ekonomi, inovasi ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan limbah industri desalinasi menjadi produk bernilai tinggi sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon nasional. Secara sosial, penerapan BARRIER mampu melindungi ekosistem laut, memperbaiki kualitas lingkungan pesisir, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah berkelanjutan.

BARRIER juga mencerminkan semangat Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta poin 14 tentang pelestarian ekosistem laut. Dengan logo tetrapod berwarna biru dan abu-abu yang melambangkan kekuatan serta keberlanjutan, BARRIER menjadi simbol perlindungan pesisir dan inovasi masa depan.

Melalui pendekatan sains mikrobiologis yang sederhana namun efektif, Baymax Team membuktikan bahwa limbah bukan akhir dari siklus produksi, melainkan awal dari peluang baru. Dengan BARRIER, Indonesia melangkah menuju masa depan yang hijau, sirkular, dan berkelanjutan di mana laut tetap lestari, dan limbah berubah menjadi fondasi pembangunan.

Apakah Informasi ini Bermanfaat Untukmu?

Klik pada bintang untuk memberikan penilaian!

Rating rata-rata 0 / 5. Banyaknya rating: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemberitaan

Artikel Serupa

Artikel Terkait