Berangkat dari keresahan terhadap peningkatan limbah padat industri dimana setiap ton tandan buah segar, sekitar 230 kilogram Palm Empty Fruit Bunches (PEFB) dihasilkan yang secara nasional jumlahnya mencapai lebih dari 20 juta ton per tahun. Sebagian besar limbah ini masih dibakar atau dibuang, yang pada akhirnya memicu emisi gas rumah kaca dan mencemari udara.
Pada ajang Chemical Engineering Research Competition 2025 ini, Tim The Sekjens dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terdiri atas Zharfa Danastri Bratandari, Alyaubirahaman Gani Ho Andara, dan Ammara Saskaradevi Cahyadi menghadirkan riset inovatif berjudul “Optimization of Anaerobic Digestion of Palm Empty Fruit Bunches (PEFB) through Effluent-Based Pretreatment: Toward an Efficient and Circular Biogas Production System” untuk mengubah masalah menjadi peluang. The Sekjens mengusulkan sistem Anaerobic Digestion (AD), yakni penguraian bahan organik tanpa oksigen yang menghasilkan biogas kaya metana. Namun, struktur lignoselulosa PEFB yang keras membuat proses AD berjalan lambat. Di sinilah muncul inovasi utama mereka: pretreatment berbasis effluent, yaitu pemanfaatan limbah cair dari reaktor biogas untuk merendam PEFB sebelum proses utama. Effluent ini kaya mikroba, enzim, dan asam lemak volatil yang dapat melunakkan struktur lignoselulosa. Hasilnya, produksi metana meningkat hingga 18,7% dibandingkan tanpa perlakuan awal, sementara waktu retensi berkurang dan efisiensi energi meningkat.
Lebih dari itu, metode ini menciptakan sistem energi sirkular: limbah cair biogas dimanfaatkan kembali untuk mempercepat produksi biogas berikutnya tanpa bahan kimia berbahaya. Dengan pendekatan ini, emisi gas rumah kaca dapat ditekan hingga 39%, serta dihasilkan pupuk organik kaya unsur hara. Dari sisi ekonomi, pembangunan digester AD skala besar hanya memerlukan sekitar Rp40 miliar jauh lebih hemat dibandingkan insinerator senilai Rp800 miliar serta mampu membuka lapangan kerja baru di sektor energi biomassa.
Secara sosial dan lingkungan, penerapan teknologi ini menekan polusi udara akibat pembakaran limbah, mengurangi bau menyengat, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar pabrik. Pendekatan ini juga mendukung target Net Zero Emission 2060 dan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 7 dan 12.
Melalui inovasi ini, tim The Sekjens menunjukkan bahwa solusi masa depan energi bersih dapat lahir dari sumber lokal yang selama ini diabaikan. Dengan sistem pretreatment effluent yang sederhana namun efektif, limbah sawit bukan lagi masalah—melainkan langkah menuju Indonesia yang lebih hijau, efisien, dan mandiri energi.
Apakah Informasi ini Bermanfaat Untukmu?
Klik pada bintang untuk memberikan penilaian!
Rating rata-rata 0 / 5. Banyaknya rating: 0
No votes so far! Be the first to rate this post.

