Proses stressing pada produk beton precast di lokasi proyek merupakan bagian integral dari metode post-tensioning, salah satu sistem prategang yang banyak digunakan dalam konstruksi modern. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memberikan gaya prategang pada tendon (kabel baja dengan kuat tarik tinggi) yang telah dipasang di dalam saluran (duct) pada elemen beton pracetak. Dengan adanya gaya prategang ini, elemen beton menjadi lebih tahan terhadap beban lentur, retak, dan deformasi akibat pembebanan struktural selama masa layan struktur.
Tahapan proses stressing diawali setelah produk beton precast selesai diproduksi, dikirim ke site, dan disusun untuk penyambungan elemen segmental sesuai dengan desain struktur. Tendon baja dimasukkan ke dalam duct yang sudah disiapkan di dalam elemen precast selama proses fabrikasi di pabrik. Di lokasi proyek, ujung-ujung tendon tersebut dikeluarkan untuk proses penarikan (stressing) menggunakan alat khusus berupa dongkrak hidrolik (hydraulic jack) yang mampu menarik tendon dengan gaya mencapai ratusan ton, sesuai dengan perhitungan teknis dalam gambar rencana.
Sebelum proses stressing dilakukan, perlu dilakukan kalibrasi alat dan pemeriksaan kondisi tendon serta sistem angkur (anchorage system) untuk memastikan bahwa seluruh komponen dalam kondisi baik dan aman. Proses penarikan tendon dilakukan secara bertahap dan dikontrol dengan ketat menggunakan alat ukur tekanan/Manomenter dan alat ukur panjang elongasi, guna memastikan bahwa tendon mengalami tegangan sesuai spesifikasi. Selama proses ini, personel yang terlibat harus mematuhi prosedur keselamatan kerja karena adanya risiko tinggi akibat tegangan besar yang tersimpan dalam tendon.
Setelah tendon ditarik dan mencapai gaya desain, tendon kemudian dikunci pada sistem angkur di ujung-ujung elemen. Proses ini memastikan bahwa gaya prategang tetap bekerja di dalam elemen beton secara permanen. Selanjutnya, dilakukan proses grouting, yaitu penyuntikan campuran semen cair (grout) ke dalam saluran duct yang mengelilingi tendon. Grouting bertujuan untuk mengisi ruang kosong, melindungi tendon dari korosi, dan meningkatkan ikatan antara tendon dan beton.
Proses stressing dan grouting harus didokumentasikan secara rinci, termasuk hasil pengukuran gaya tarik, elongasi tendon, serta volume dan tekanan grout yang digunakan. Dokumentasi ini penting untuk keperluan pengawasan mutu dan kelayakan struktur secara keseluruhan.
Dengan dilakukannya proses stressing yang tepat dan sesuai prosedur, elemen precast akan memiliki kapasitas struktural yang lebih tinggi, lebih tahan terhadap beban layan, serta memiliki umur layan yang lebih panjang. Proses ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam sistem struktur pracetak prategang yang efisien dan ekonomis.
Apakah Informasi ini Bermanfaat Untukmu?
Klik pada bintang untuk memberikan penilaian!
Rating rata-rata 0 / 5. Banyaknya rating: 0
No votes so far! Be the first to rate this post.

