BRIKON, singkatan dari Bangunan Rangka Interlock Konstruksi Beton adalah salah satu teknologi rumah pracetak hasil pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diperkenalkan pada tahun 2020. BRIKON hadir sebagai pelengkap dua inovasi panel modular prefabrikasi lain yang lebih dulu dikenal, yaitu RISHA (2004) dan RUSPIN (2013), dengan tujuan yang sama, yaitu mempercepat rekonstruksi hunian tahan gempa, terutama di kawasan rawan bencana. Keunikan BRIKON adalah pendekatan sambungannya. RISHA dan RUSPIN hanya mengandalkan baut dan mur seperti, sedangkan BRIKON menambahkan elemen box-baja sebagai join di setiap titik pertemuan balok dan kolom.
Secara teknis, BRIKON terdiri dari dua jenis komponen utama, yaitu panel beton bertulang (Panel P) dan box baja (Panel S) sebagai penghubung. Elemen beton menggunakan mutu beton fc’ 25 MPa dengan tulangan ulir diameter 13 mm dan tulangan polos 6 mm. Penampang komponennya berukuran 20×20 cm dengan panjang bervariasi 80, 100, hingga 120 cm, sehingga desain ruang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Box-baja berukuran sama, 20×20 cm, dengan lubang di keenam sisinya untuk menerima baut sambungan. Proses perakitannya: balok dan kolom pracetak disambungkan ke box baja menggunakan alat sambung mekanis berupa baut dan turnbuckle, kemudian celah sambungan di-grouting dengan semen agar rangka menjadi satu kesatuan struktur yang stabil.
Keunggulan utama BRIKON terletak pada fleksibilitas desainnya. Karena hanya terdiri dari dua jenis komponen dasar (box baja dan elemen beton), panjang komponen bisa divariasikan sesuai modul ruang yang diinginkan, dan sistem interlock pada rangkanya memudahkan pemasangan dinding di tahap berikutnya.
BRIKON juga dirancang mampu mendukung bangunan rumah tinggal hingga dua lantai, dengan sambungan mekanis yang tidak terekspos langsung ke udara luar sehingga lebih tahan korosi dibanding sistem sambungan terbuka. Studi perbandingan yang dilakukan Carissa et. al. (2025) turut mengonfirmasi bahwa dari sisi produksi, BRIKON unggul dalam meminimalkan limbah material berkat variasi ukuran panjang panelnya yang lebih beragam dibanding RISHA dan RUSPIN.
Namun demikian, keunggulan itu berdampingan dengan sejumlah catatan penting, terutama dari sisi kecepatan pemasangan dan biaya. Studi Carissa et. al. (2025) mencatat bahwa pada level per-panel, waktu pemasangan BRIKON adalah yang paling lama dibanding RISHA dan RUSPIN sekitar 10 menit per panel, dibandingkan RISHA (8,67 menit) dan RUSPIN yang tercepat (7 menit). Biaya konstruksinya pun paling tinggi, yaitu sekitar Rp63.000,00 per panel, sementara RUSPIN hanya Rp41.000,00 dan RISHA Rp45.000,00 per panel. Dalam waktu pengerjaan satu sekolah, BRIKON membutuhkan sekitar 18,46 jam, jauh di atas RUSPIN dengan 7,19 jam dan RISHA 10,11 jam.
Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, BRIKON menjadi alternatif ramah lingkungan yang kuat dalam membangun hunian tahan gempa demi mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia khususnya di daerah rawan bencana.
Daftar Pustaka:
Carissa, Dewi Larasati, Sugeng Triyadi, Mia Wimala, Alyssa (2025). Performance Evaluation of Indonesian Prefabricated Modular School Building. Civil Engineering and Architecture, 13(3), 1760 – 1776. DOI: 10.13189/cea.2025.130323.
Carissa, Dewi Larasati, Sugeng Triyadi, Mia Wimala, Wisena Perceka (2025). Design and Performance Comparison of Prefabricated Modular Panel Technologies for Elementary School Buildings in Indonesia: Analyzing RISHA, RUSPIN, and BRIKON. International Journal on Advanced Science Engineering Information Technology, 15(6), 1807-1818. ISSN: 2088-5334
Profil Penulis:
Nama: Ryan Adithya Pratama
Nomor Telepon (WhatsApp): +6283870702009
Asal Kampus: Universitas Sebelas Maret
Program Studi: D3 Teknik Sipil
Instagram: @ryandhtyprtm
Apakah Informasi ini Bermanfaat Untukmu?
Klik pada bintang untuk memberikan penilaian!
Rating rata-rata 5 / 5. Banyaknya rating: 3
No votes so far! Be the first to rate this post.

